Thursday, May 7, 2009

Sekolah kita dulu

Waktu TK saya pingin jadi astronot, apa yang mengilhami, saya tak ingat. Ketika SD saya pingin jadi detektif. Mungkin karena saya senang baca cerita detektif di majalah intisari, novel lima sekawan, trio detektif, sapta siaga, nancy drew dan hardy boys. Komplit. Setiap hari saya beraktivitas dengan imajinasi bak seorang detektif. Saya suka mengamat-amati sekeliling. Menandai hal-hal yang menurut saya penting, mencurigakan dan sejenisnya.

Cita-cita itu berubah lagi. Saya pingin jadi wartawan, karena jadi wartawan berarti bisa pergi-pergi ke banyak tempat. Selain itu saya juga pernah ingin jadi peneliti, jadi profesor (ga tau profesor apa), pingin jadi ahli (ntah ahli apa) dan jadi insinyur (mbuh insinyur apa).

Sekolah pertanian
Sampai menjelang ujian masuk PT, saya sesungguhnya dalam keadaan bingung, tidak tahu harus sekolah apa, mau jadi apa. Ibu saya memberi masukan, jadi insinyur pertanian saja, biar ilmunya bisa diamalkan di desa saya. Sementara itu, sebelah hati saya bilang, kuliah MIPA Biologi saja, karena saya senang pelajaran itu, sekalipun tidak tahu kalau lulus saya bisa jadi apa.

Hasil test ujian masuk, mengirim saya masuk fakultas pertanian. Tak butuh waktu lama, ternyata saya tidak punya feeling dengan tumbuh-tumbuhan. Kuliah berlalu begitu saja, praktikum kadang ikut kadang tidak. Laporan dan tugas pinjam teman sana-sini. Tidak punya catatan kuliah, dan sibuk fotocopy saat ujian tiba.

Untungnya, saya punya hiburan. Teman-teman nongkrong di unit aktivitas pers mahasiswa. Bersama mereka saya melewatkan 4.5 tahun masa kuliah dengan selamat. Kami bicara bahasa yang sama, tertawa dan bercanda dengan cara yang sama.



Selepas yudisium, saya diterima kerja di Majalah SWA (Alhamdulillah...). Penuh semangat, saya jalani profesi itu seluruh jiwa raga dan kebanggaan. Tapi hanya tiga tahun, diganggu rasa bosan, ingin sesuatu yang lain. Saya pindah ke perusahaan lain, ke jenis pekerjaan lain.

Sekarang, saya adalah wiraswasta yang tidak ada hubungannya dengan cocok tanam. Pengalaman menjadi wartawan, penulis, periset serta di event organizer dan public relations menjadi bagian dari proses membentuk sikap mental dan personalitas.
Pertanyaannya: apa relevansi sekian tahun kuliah saya pada kehidupan saya kini?
Saya dulu seneng pelajaran kimia, pinter biologi, laluuu… Bener banget yang dibilang Pak Bob Sadino, ilmu-ilmu yang sudah kita pelajari, jika tdk applied, maka akan busuk belaka.


Wednesday, May 6, 2009

MAIN APA, dong!!!

Peringatan keras bagi semua orang tua, segera beri batas waktu anak-anak berinteraksi dengan komputer dan segala gadget lain, terutama jika untuk nge’game.

Jaman sekarang, selain kita dibantu oleh suster,mbak atau apapun namanya atau tanpa bantuan, ada asisten berteknologi tinggi yang mungkin tanpa kita sadari sudah menjadi menjadi “pengasuh terbaik” bagi anak-anak. “Pengasuh” yang tidak pernah marah, yang tidak pernah berantem sama anak kita, yang bisa membuat anak duduk manis, penuh konsentrasi itu bernama komputer, TV dan piranti lain sejenis (PSP,gameboy dll yang saya tdk tahu namanya)

Kami mengalami banget, masa-masa dimana “pengasuh” itu menjadi jalan keluar saat kami sibuk urusan pekerjaan maupun kecapekan karena pekerjaan. Anak-anak tidak merengek minta ditemani, tidak minta jalan-jalan, mereka manteng terus didepan komputer main game selama berjam-jam.

(Sering bukan, melihat anak-anak umur SD entah lagi jalan di mal, makan sama ortunya diresto, di ruang tunggu dokter dan kesempatan lain, tangannya asyik pegang entah PSP entah HP ortunya, matanya tidak lepas dari layar main game, seperti tak ada hal lain yang bisa dan positif untuk dikerjakan. Coba kita liat, seperti apa itu ortunya).

Para pembaca yang budiman, para orang tua yang bijaksana. Ayo mari sama-sama mengevaluasi, berapa lama anak-anak kita main game komputer,main PSP, main game di Hp, setiap harinya.

Main apa dong kalo tidak boleh nge’game?

Protes spontan anak-anak, saat peraturan komputer sejam sehari ditetapkan. Beberapa hari kemudian anak-anak jadi badmood. Jika ini nanti terjadi, mohon jangan menyerah.

Pada prinsipnya, anak-anak adalah mahkluk yang rajin, tidak bisa bengong dan tidak suka jika tidak beraktivitas –sudah capek disuruh tidur aja ga mau-. Berbeda dengan orang dewasa (saya maksudnya hehehe). Jika ada anak yang suka bengong, maunya ngganggur alias do nothing, ha itu pasti karena salah asuhan (coba kita lihat bagaimana cara ortu mendidiknya).

Jadi, setelah jam komputer dibatasi. Sebagai pengganti, sepeda yang berdebu dan kempes ban-nya, dibenerin. Mainan-mainan yang lama terlupa dibongkar. Buku-buku yang berjajar di rak, dibongkar. Dan sesuai dengan kodratnya sebagai anak-anak, lambat tapi pasti mereka akan mencari hiburan lain. Bersepeda, main bola, main segala macem yang bisa dimainkan, baca buku, berkelahi dengan siblingnya dan satu lagi - kembali merecoki orang tuanya.

Saturday, April 11, 2009

Ruang remang


Total jenderal hampir 8 minggu saya me”nenggelam”kan diri mengurusi hal-hal teknis, kerumitan-kesibukan-keruwetan macem-macem urusan. Sampai tidak nge-blog, jarang buka facebook, jarang buka email dan YM lebih sering offline. Termasuk tidak keluar-keluar untuk bertemu dengan si-ini, si itu, tidak bertelepon, tidak sms-an.

Pada saat bersamaan, saya asyik menghabiskan Orhan Pamuk (dan lain-lain). “Bertapa” dalam riuh operasional bisnis, itu bisa sangat melenakan. Persis seperti saat kita masuk ke sebuah ruang dengan cahaya remang. Pertama masuk kaget merasa “wah kok gelap”. Setelah kaget sirna, mata lambat laun mulai bisa menangkap bentuk-bentuk benda dalam ruang itu. Makin lama, tak terasa bahwa ruang itu kurang cahaya, yang ada adalah rasa kian terbiasa. Baru sadar jika ruang itu kurang cahaya, saat kita buka jendela atau pintu. Mata kaget lagi “wah kok silau”.

Rasanya seperti tidak lama di dalam ruang remang tadi. Ternyata waktu telah bergeser, dari pagi ke siang ke sore – ke malam. Bahwa hari telah berganti, lebih gawat lagi kalau ternyata musimpun telah bergeser.

Sunday, March 15, 2009

BOLT


Hari kemarin dan hari ini, saya bersama anak-anak nonton BOLT di rumah. Film garapan Disney ini kemudian cukup membuat si bungsu saya mengidentifikasi dirinya sebagai Bolt. Di punggung tangannya digambar scare serupa setrum listrik, dengan tinta tahan air (tapi ga tahan kringet, jadi sebentar-sebentar hrs ditebali).

Bolt, kisah anak anjing berbulu putih yang pemberani. Hari-harinya dilalui dengan berlari kencang –selaju mobilnya schumy-, demi menyelamatkan diri dari para pengejar. Melompat gedung tinggi, jalan layang dan aneka manuver luar biasa khas imajinasi film. Punya tatapan mata yang bisa melumerkan besi, kepalanya kuat menubruk bolong tembok tebal, dia juga punya juru pamungkas berupa “super bark” alias menyalak kencang yang dampaknya seperti ledakan nuklir. Pokoknya awesome. Bolt adalah hero, anjing pahlawan (atau pahlawan anjing) yang selalu berperan sebagai pelindung, penolong, penyelamat gadis cilik –Penny- dalam rangka memberantas kejahatan.

Masalahnya si Bolt tidak mengerti bahwa semua petualangan yang dia tempuh bersama Penny hanyalah sebuah skenario film serial BOLT. Ia tidak tahu, bahwa besi lumer, tembok bolong dan semua adegan dasyat itu adalah trik film belaka. Bolt yakin seyakinnya bahwa dirinya sungguh awesome dog in the world. Baginya melindung, menolong dan menyelamatkan Penny adalah tugas hidup.

Sikap mental dan keyakinan
Suatu hari, Bolt terpisah dari Penny, tersesat lalu bertemu burung dara lalu berteman dengan kucing jalanan dan hamster (yang seumur hidupnya pingin bisa jadi super hero seperti Bolt). Namun tidak sedetikpun Bolt bisa menghentikan keyakinannya bahwa ia harus menemukan Penny, melindungi, menolong dan menyelamatkannya.

Si Kucing jalanan berusaha menyadarkan Bolt, tentang realitas dunia nyata vs realitas film. Menjelang ujung cerita, Bolt sadar bahwa dia adalah regular dog. Ekspresi sedihnya sungguh membuat saya dan anak-anak tercekam. Namun saat Penny dalam bahaya yang sesungguhnya –studio filmnya terbakar- Bolt yang terlatih menjadi hero, melupakan soal bahwa dia adalah reguler dog –yg ga punya heat vision dan super bark-, Bolt dengan keberaniannya menerobos api, mempertaruhkan diri menyelamatkan Penny.

Karena terlatih, karena berulang-ulang dilakukan,karena keyakinan yang kuat, Bolt si anjing biasa, mampu membuktikan bahwa dia “luar biasa”. Persis banget seperti apa yang kita jalani dalam bisnis, mempelajari sesuatu, menerapkannya, menemukan masalah mencari jalan keluarnya, menganalisa hasil dan seterusnya, sampai menjadi sikap mental entrepreneur. Berproses terus dan melihat hasil sebagai sebuah konsekuensi.

Selamat berkarya…

Friday, March 13, 2009

"ya ampuuunnn, lama sekali, kemana aja.."

Judul tulisan ini, sebenarnya pertanyaan untuk diri saya sendiri. Tigapuluh hari lebih saya tidak menulis, tidak curhat, padahal mengutip Mas Siwo, ngeblog (kini) merupakan salah satu kebutuhan penting penyelaras kesehatan jiwa dan pikir..

Jadi saya berjanji...akan rajin nulis lagi.. Saya tahu banget, janji ini sering saya dengungkan...hihihi..agak susah saya tepati.

Salam

Update:
- www.saqina.com tancap gas pol, asyik banget
- sedang mengangankan sarasehan khusus untuk para ibu TDAers

Sunday, February 8, 2009

Kiat: Naluri Perempuan

Kompas edisi hari minggu ini, saya nanti sejak kemarin. Ingin tahu profile Dirut pertamina yang baru. Nah, tulisan yg ke-2, ceritanya bener-bener "saya banget"..hehehe. Saya juga Dirut (saya lantik diri sendiri sbg dirut SAQINA.com hehehe), juga ibu rumah tangga, yang sangat beruntung karena memiliki suami dan anak-anak yang solid dan mendukung saya untuk aktif bekerja membesarkan perusahaan. Satu pernyataan Bu Karen, yang saya setuju banget, bahwa perempuan dilahirkan multitasking.

Saat ditemui, Karen mengenakan blus merah dan celana hitam, bukan blazer dan celana hitam seperti dugaan semula. Di setiap acara Pertamina, ibu tiga anak ini memang terlihat menonjol dalam berbusana. Padu padannya pas dan asyik. Di antara kerumunan orang, pasti akan langsung terlihat Karen ada di mana.

Penampilan penting, namun lebih penting lagi karakter, begitu kata Karen. Maka, ia pun tak risi jika harus memakai busana produk pasar grosir Mangga Dua, misalnya, karena karakter diri tidak akan membohongi. Aura seseorang akan tetap muncul, apa pun baju yang dikenakan. ”Sebenarnya ada yang lebih penting, clean heart,” ujarnya.

Menjadi dirut, harus ngurus rumah, waktu 24 jam sehari semalam cukupkah? ”Cukup. Saya usahakan masih mengantar anak saya yang kecil ke sekolah, selama tidak ke luar kota. Saya biasanya pulang pukul 10 malam, tetapi saya usahakan pukul 8 atau 9 malam supaya bisa ngelonin si bungsu,” sahutnya.

Karen berusaha efektif dan tidak terlalu capai saat sampai di rumah. ”Kalau lihat di mobil saya, ada boneka, selimut, dan bantal. Jadi, begitu masuk mobil, tidur, sampai di rumah (Bintaro) sudah seger lagi. Jadi, anak-anak tidak akan melihat a tired mommy coming from work yang bete ngadepin keluarga, he-he-he,” tuturnya.

Ia beruntung memiliki keluarga yang anggotanya saling mendukung. Ia beruntung membesarkan tiga putra dengan mudah. ”Masa puber mereka juga aman, gak macam-macam. Saya bersyukur gerbong di belakang saya ini solid.”

Oya, tentang nada bicaranya yang begitu cepat, Karen menukas, ”Itu karena perempuan dilahirkan multitasking, mengerjakan banyak hal, jadi sudah naluri.” (IVV/DOT)


Wednesday, February 4, 2009

Hidup yang Salah Melulu


Suatu hari, saya bertemu seorang Ibu tiga anak. Demikian kutipan percakapan kami:
“ibu yang punya saqina ya”
“enak ya, sudah punya toko banyak, jadi tiap hari di toko ya”
Saya tersenyum.
tokonya dimana saja”
Lalu saya ceritakan singkat posisi jaringan toko saqina yang semua di luar jakarta, dan kantor saqina.com yang posisinya di depan rumah.
“oh jadi, tiap hari dirumah ya”
Hmmm…saya tersenyum saja
Lalu lanjutnya: “oh jadi ibu ini ibu rumah tangga biasa tho...”
Saya tersenyum saja.

Belum selesai, si ibu bertanya lagi.
“kok bisa buka toko di purwakarta, ada saudara?”
Tidak!, lalu saya ceritakan sedikit prosesnya.
“oh..tapi enak ya, sudah punya mobil buat pergi-pergi jauh cari lokasi”
Ya saya mesem lagi..mau bicara apa coba.

Pertanyaan melompat urusan anak
“anaknya berapa bu, umur berapa”
Lalu demi tahu anak saya umur 10 dan 5 tahun.
Si ibu berkata “wah ibu mah enak ya, anaknya sudah besar-besar”.
Saya mesem thok, sambil memandang wajah masam si ibu yg sedang menggendong anak terkecilnya.


Dalam hati saya bercakap panjang.
Anak saya dulu juga bayi dulu, bukan langsung umur 10 tahun. Mobil juga beli kredit dan musti nyicil, bukan jatuh dari langit. Toko juga mulai dari satu dengan interior dan jumlah dagangan yang minim banget, bukan langsung punya lima toko. Modal juga dari pinjem sana-sini, bukannya tinggal petik, seperti metik daun di pohon. Dulu saya juga ngalamin berangkat pagi pulang larut, kerja di perusahaan orang lain. Bedanya, saat seperti apapun saya merasa enak aja. Alhamdulillahh…

Duh ibu sayang.. kalo anak masih kecil salah, kalau belum punya mobil salah, belum punya usaha salah, penghasilan suami pas-pasan salah. Kaya’nya buat ibu jawabannya Cuma satu. Ibu salah lahir, mustinya lahir jadi anaknya presiden ajah, melek sudah kaya!. Tapi semua presiden awalnya juga susah dulu ya…duuuhhh..kwacian deh dikau Bu!

Tobaaat..

Yang Mahal Prosesnya!


Suatu hari seseorang dari seberang lautan sana menghubungi saya. Omong punya omong, beliau mempercayakan kepada kami (saya & Rosihan) untuk membuat sesuatu. Kami sangat bersemangat, ah tak sulit, pikir kami, karena sesuatu ini toh bukan mainan baru. Begitu rasa kami.

Waktu berjalan, kami mulai melakukan tahap-tahap untuk mewujudkan sesuatu itu. Weh..ternyata, banyak ditel yang kami tidak tahu. Ini membuat kami harus bertanya kesana-kemarin dan tentu saja bepergian kesana-kemari pula. Bertemu si itu, berkenalan dengan si ini, memperkenalkan diri kami dan seterusnya.

Sesuatu itu, lalu kami kirim kepada kenalan kami, orang seberang itu. Oh, tidak berkenan beliaunya. Kurang begini dan kurang begitu. Ok, saran- masukan- permintaan di tampung, janjipun kami layangkan. Yang semula kami duga mudah, mulai menunjukkan liku-likunya. Masih ditambah keharusan untuk bisa memenuhi tenggat waktu. Maka tidak pagi, siang, sore, malam dan pagi lagi, pikiran dan tenaga tercurah.

Sampai tak terasa 4 minggu berlalu. Alhamdulillah, dari sebuah permintaan dan janji untuk bisa memenuhi permintaan dari orang seberang itu. Terbuka banyak jalan, kenalan baru dan pengetahuan tambahan.

Rupiah kami sudah keluar, belum ada pemasukan. Namun proses yang kami lalui, apa yang kami dapat sepanjang proses itu. Nilainya sungguh luar biasa.

Jadi, buat yang bolak-balik bertanya: “gimana caranya memulai bisnis, gimana jualan, gimana dapat pembeli, gimana ini, gimana itu ?" Lakukanlah…segera lakukanlah..biarkan proses yang memberi jawab atas pertanyaan-pertanyaan anda.

Suatu ketika, akan sampai saat dimana proses begitu mengasyikkan, menegangkan, membangkitkan adrenalin, dan hasil hanyalah konsekuensi logis belaka.

Selamat berproses!